Wednesday, January 30, 2013

Bakteri dan Kaitannya dengan Forensik

Posted by Unknown at 6:20 PM
Oleh: Dini Fitriyanti*

“SINDONEWS – Pencurian artefak di Museum Suriah mencapai USD 2 miliar. Senin (15/10/2012), muncul sebuah laporan tentang pencurian sejumlah artefak bersejarah yang berusia lebih dari 6000 tahun. Artefak ini diduga telah dijarah oleh mafia yang sangat terorganisir.”

“PESATNEWS – Lukisan bernilai tinggi karya Picasso, Matisse, Gauguin, Meyer de Haan, Lucian Freud, dan Monet dicuri pada Selasa (16/10/2012) dari sebuah galeri seni di Belanda. Pencurian ini dianggap sebagai pencurian seni terbesar di jaman modern seperti saat ini.”

Dua petikan berita di atas tentu sangat mengejutkan bagi kita. Pencurian artefak dan lukisan karya maestro seni dunia tentu tidak dapat dianggap biasa. Polisi yang menyelidiki sampai saat ini pun masih menduga-duga siapa yang mungkin dapat dijadikan tersangka dan yang namanya pendugaan tentu  masih bersifat setengah benar-setengah salah. Bukti forensik yang tertinggal mungkin tidak cukup menjadi bukti kongkret untuk mengungkap siapa pencurinya. Bahkan, kemungkinan polisi sama sekali tidak menemukan bukti apapun di tempat kejadian perkara.

Bukti forensik dapat berupa apa saja yang ditinggalkan pelaku baik berupa barang atau bagian tubuh, bahkan hanya berupa sehelai rambut. Saat ini, perkembangan teknologi DNA menjadi sangat berarti karena sedikit dan sekecil apapun bukti yang tertinggal, seperti rambut dan air liur, identitas seseorang dapat terlacak dan tentunya memudahkan penyelidikan pihak berwenang. Namun, apabila tidak ditemui, tentu penyelidikan akan semakin sulit dan kasus-kasus seperti dua petikan berita di atas akan sulit ditangani. Bukan hanya kali ini saja, kasus kriminal lain yang sebelumnya telah terjadi pun masih banyak yang belum tertangani karena minimnya bukti forensik.

Oleh karena itu, Noah Flerer dan staf peneliti lainnya dari Universitas Colorado dan Institusi Medis Howard Hughes meneliti mengenai peran komunitas bakteri yang ada pada kulit seseorang sebagai bukti forensik. Penelitian yang jurnalnya telah terbit sejak 2010 ini membandingkan komunitas bakteri pada ujung jari tiga orang yang mengetik dengan komunitas bakteri yang terdapat di masing-masing keyboard yang dipakainya. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya kesamaan antara bakteri yang terdapat pada ujung jari setiap orang dengan yang terdapat di keyboard yang dipakainya masing-masing. Hal ini membuktikan bahwa komunitas bakteri yang terdapat pada kulit setiap orang berbeda sehingga komunitas bakteri ini dapat menjadi salah satu penciri dari setiap orang.

Penelitian ini tentu dapat menjadi alternatif dalam identifikasi forensik. Bakteri yang selama ini selalu ingin kita singkirkan dari tubuh kita dan kerap sangat tidak dipedulikan ternyata mempunyai peran lain yang tidak pernah terbayangkan sehingga tidak menutup kemungkinan artefak dan lukisan karya maestro dunia yang menakjubkan itu dapat diselamatkan.

*Penulis adalah mahasiswa strata satu Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2011 Abdi Bobotoh Persib | Design by Kenga Ads-template